BLORA,POJOKBLORA.ID - Di tengah gemuruh gamelan dan antusiasme ribuan warga yang memadati arena pagelaran wayang kulit di halaman Balaidesa Trembulrejo, Kecamatan Ngawen, Jumat (10/7/2026) malam, Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman menyampaikan optimisme besar terhadap masa depan Kabupaten Blora.
Dalam acara Tasyakuran Sedekah Bumi (Gasdeso) yang menghadirkan pagelaran wayang kulit lakon Babad Wanawarta oleh dalang Ki Sigit Ariyanto, Bupati Arief Rohman memaparkan capaian sektor pertanian, peternakan, ekonomi, hingga pembangunan sumber daya manusia.
Bupati Arief menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Blora saat ini mencapai 5,49 persen.
Badan Pusat Statistik mencatat, saat ini Blora sebagai daerah dengan populasi sapi potong terbesar di Jawa Tengah. Di sektor tanaman pangan, Blora menjadi penghasil jagung terbesar kedua serta masuk enam besar daerah penghasil padi di provinsi Jateng.
Tidak hanya ekonomi, pembangunan infrastruktur juga terus menunjukkan kemajuan. Kondisi jalan mantap di Kabupaten Blora kini telah mencapai sekitar 70 persen.
“Jalan Tunjungan-Japah sekarang sudah bagus dan mulus. Ini berkat dukungan pemerintah pusat melalui dana Inpres dan bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Harapan kami sebelum masa jabatan berakhir, jalan di Kabupaten Blora bisa tuntas 100 persen,” ujarnya.
Dari Wayang Menuju Pembangunan SDM
Menariknya, panggung budaya yang biasanya menjadi ruang pelestarian tradisi malam itu juga dimanfaatkan sebagai sarana mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia desa.
Bupati Arief mengajak kepala desa, perangkat desa, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kader PKK, Karang Taruna, RT/RW, hingga kader Posyandu untuk melanjutkan pendidikan melalui Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Universitas Negeri Semarang (UNNES).
“Saya, Mas Dalang Sigit, dan Pak Kades Imroni sama-sama alumni UNNES. Tahun ini program RPL dibuka lagi dengan kuota 230 mahasiswa. Ini kesempatan besar bagi para pegiat desa untuk meningkatkan kapasitas diri,” kata Arief.
Menurut Bupati Arief, pembangunan fisik tidak akan berjalan optimal tanpa didukung kualitas SDM yang memadai. Karena itu, pendidikan menjadi investasi jangka panjang yang terus didorong Pemerintah Kabupaten Blora.
“Kalau SDM maju, pelayanan publik di desa juga akan semakin baik. Ini yang terus kami dorong,” ujarnya.
Bupati juga menginformasikan, hingga kini hampir 1.000 warga Blora telah menempuh pendidikan tinggi melalui berbagai program kerja sama dengan UNNES.
Selain capaian pembangunan, Bupati Arief juga menyampaikan bahwa Pemkab Blora tengah mempersiapkan pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak yang direncanakan berlangsung pada 2027.
“Insya Allah tahun 2027 mendatang akan dilaksanakan Pilkades Serentak di Kabupaten Blora,” katanya.
Dikesempatan yang sama, Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah Padmasari Mestikajati yang turut hadir mengapresiasi konsistensi Desa Trembulrejo dalam menjaga tradisi dan kebudayaan lokal.
Menurut Padmasari, kegiatan sedekah bumi yang rutin digelar setiap tahun menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi dan fisik, tetapi juga menjaga akar budaya masyarakat.
“Setiap tahun Desa Trembulrejo selalu menghadirkan pagelaran budaya seperti wayang kulit dan ketoprak. Tradisi seperti ini harus terus dijaga karena menjadi identitas masyarakat sekaligus sarana pendidikan budaya bagi generasi muda,” katanya.
Regenerasi Pemimpin Desa
Sementara itu, Kepala Desa Trembulrejo Muhamad Imroni mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mulai mengambil peran dalam pembangunan desa.
Menjelang Pemilihan Kepala Desa serentak yang direncanakan berlangsung pada 2027, Imroni mendorong munculnya kader-kader pemimpin baru yang memiliki kapasitas dan komitmen membangun desa.
“Monggo para pemuda dan pemudi Trembulrejo yang ingin memajukan desa agar mulai menyiapkan diri. Siapa pun yang memiliki niat baik untuk membangun desa, silakan ikut berpartisipasi dalam Pilkades 2027 nanti,” ujarnya.
Pagelaran wayang kulit yang juga dimeriahkan dagelan Jolang, Cak Dodok, dan Cak Kampret berlangsung hingga larut malam. Bagi masyarakat Trembulrejo, sedekah bumi bukan hanya perayaan hasil panen, melainkan momentum merawat budaya, memperkuat gotong royong, sekaligus meneguhkan harapan akan masa depan desa yang semakin maju.(Red)
