BLORA,POJOKBLORA.ID– Pemerintah Kelurahan Mlangsen, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, melakukan kunjungan ke Rumah Budaya yang terletak di Jalan Arumdalu, Mlangsen, pada Rabu (25/2). Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Lurah Mlangsen, Evi Kartikasari, didampingi oleh Bhabinkamtibmas dan Babinsa setempat.
Rumah budaya yang telah berdiri sejak 200 tahun lalu pada masa penjajahan Belanda itu milik H. Susanto Raharjo, yang akrab disapa Kaji Teksun. Keberadaan rumah ini dinilai unik karena menjadi representasi nyata akulturasi budaya antara etnis Tionghoa dan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat Blora.
Lurah Mlangsen, Evi Kartikasari, menyampaikan rasa bangganya atas keberadaan rumah bersejarah tersebut. Ia menekankan bahwa tempat itu menjadi bukti bahwa identitas budaya dan keyakinan agama dapat berjalan beriringan.
"Kami dari pemerintah kelurahan Mlangsen senang dan bangga karena di sini ada akulturasi budaya. Menjadi seorang muslim, tidak lantas menghilangkan identitas sebagai orang Tionghoa. Ini tentunya sangat bagus. Warga Tionghoa di Blora, khususnya Mlangsen, juga beragam agamanya; ada yang Tionghoa, Buddha, Kristen, Katolik, dan Islam. Pemilik rumah ini adalah seorang muslim, tapi tetap tidak menghilangkan identitas Tionghoanya," ujar Evi.
Ia menambahkan bahwa pihaknya merasa memiliki kewajiban untuk menginformasikan keberadaan situs budaya ini kepada masyarakat luas. Harapannya, Rumah Budaya dapat terus lestari dan menjadi simbol persatuan.
"Harapan kami, rumah ini tetap menjadi rumah bersejarah, menjadi simbol persatuan dari berbagai etnis yang ada di Blora, berbagai agama di Blora, dan berbagai suku," imbuhnya.
Sementara itu, pemilik rumah, H. Susanto Raharjo, mengaku sangat senang atas perhatian yang diberikan oleh pemerintah kelurahan. Ia menjelaskan bahwa rumah yang ditempatinya telah lama berperan bagi masyarakat Blora, tidak hanya sebagai cagar budaya, tetapi juga dalam kegiatan sosial dan pelestarian sejarah.
"Saya sangat senang sekali bisa dikunjungi. Rumah ini sudah banyak berjuang untuk masyarakat Blora, baik dalam pelestarian budaya, sosial, maupun sejarah. Rumah ini dibangun 200 tahun lalu oleh orang Tionghoa pada masa penjajahan Belanda," jelas pria yang akrab disapa Kaji Teksun tersebut.
Kunjungan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya merawat keberagaman dan warisan leluhur sebagai kekayaan bangsa.(Agung)
