Petani Tebu Blora 'Nekat' Datangi HUT HKTI ke-53, Minta Solusi Atas Ratusan Miliar Kerugian


JAKARTA,POJOKBLORA.ID –
Puluhan pengurus Asosiasi Petani Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora dengan berani mendatangi perayaan Hari Ulang Tahun ke-53 Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Auditorium Gedung F Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (27/4/2026). Langkah tersebut dinilai "nekat" karena bertujuan membawa langsung aspirasi para petani tebu yang tengah dilanda krisis akibat berhentinya operasional pabrik gula.

Ketua APTRI Blora, Drs. H. Sunoto, mengakui bahwa kehadiran mereka di tengah acara puncak peringatan HKTI adalah upaya rasional untuk membuka peluang bertemu para menteri Kabinet Merah Putih dan tokoh nasional. "Kami butuh solusi konkret atas persoalan pelik yang dihadapi petani tebu. Ini kesempatan langka," ujarnya.

Momentum tersebut membuahkan dialog langsung dengan Wakil Menteri Pertanian yang juga Ketua Umum DPN HKTI, Dr. H. Sudaryono, B.Eng., M.M., M.B.A. Dalam sesi pengarahan, Sudaryono menyampaikan kisah inspiratif tentang "mencari kunci yang hilang di tempat gelap, padahal solusinya justru ada di tempat terang."

Menanggapi perumpamaan itu, Anton Sudibyo, perwakilan petani tebu Blora, langsung merespons dengan gaya khas Blora. "Bapak, carilah kunci di tempat yang gelap. Di Blora gelap sekali, carilah di sana," ujarnya usai acara.


Secara spontan, Wakil Menteri Pertanyaan membalas, "Mau ribut atau tenang?" Meskipun terdengar lugas dan kurang sesuai dengan tata krama komunikasi Jawa, dialog tersebut diharapkan menjadi pemicu kunjungan lapangan untuk meninjau langsung penderitaan petani tebu.

Kerugian Lebih Rp500 Miliar di 2025

Latar belakang kegelisahan petani tebu Blora sangat mendesak. Sepanjang musim giling 2025, PT GMM Bulog (pabrik gula satu-satunya di wilayah itu) menghentikan proses giling secara mendadak akibat dua unit boiler mengalami kerusakan berat. Akibatnya, petani menanggung kerugian lebih dari Rp500 miliar.

Kini, memasuki masa giling 2026, ancaman kerugian serupa kembali membayangi. Sebanyak 8.000 hektare lahan tebu siap panen, namun pabrik gula memastikan tidak beroperasi kembali. Dalam Forum Temu Kemitraan beberapa waktu lalu, manajemen PT GMM Bulog mengakui mengalami kesulitan dana untuk membeli tebu petani.


"Seperti peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga. Belum terbayang berapa miliar lagi kerugian yang akan kami tanggung tahun ini," ujar H. Sunoto.

Dukungan dari Berbagai Pihak

Perjuangan APTRI Blora mendapat simpati dari sejumlah tokoh. Selain Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman, S.I.P., M.Si., Wakil Bupati Hj. Sri Setyorini, dan Ketua DPRD H. Mustofa, S.Ag., dukungan juga datang dari pengusaha Jakarta Arif Pahlevi Pangerang, mantan Dirut Pabrik Gula GMM Lie Kamajaya, serta Tokoh Pertanian Jawa Timur H. M. Arum Sabil.

Wakil Ketua Dewan Pembina DPN HKTI yang juga Menteri Bappenas, Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, turut memberikan pencerahan. Sementara Ketua Umum HKTI Dr. H. Sudaryono menegaskan komitmennya bahwa HKTI akan menjadi "mata, telinga, dan tangan Kementerian Pertanian" dalam mengawal swasembada pangan dan hilirisasi.

"HKTI adalah rumah besar petani yang siap menampung seluruh keluhan dan persoalan petani," tegas Sudaryono.

Momentum Membangkitkan Semangat

Penasihat APTRI, Ir. H. Bambang Sulistya, M.M.A., menyebut kedatangan rombongan ke HUT HKTI ke-53 sebagai momentum membangkitkan semangat. "Perjuangan butuh kesabaran dan semangat tak lapuk karena hujan, tak lekang karena panas," ucapnya.

Ia berharap HKTI semakin kokoh menjadi wadah perjuangan petani Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan, kemandirian, dan mendukung swasembada pangan.

"Selamat ulang tahun ke-53 HKTI. Semoga keluhan petani tebu Blora segera mendapat keadilan," pungkas Bambang.(RED)

Posting Komentar

Beri masukan dan tanggapan Anda tentang artikel ini secara bijak.

Lebih baru Lebih lama