BLORA,POJOKBLORA.ID- Pohon tua tak sekadar menjadi peneduh atau penghias lanskap. Di balik batang yang menjulang dan akar yang menjalar, tersimpan cerita sejarah, folklor, tradisi, hingga kepercayaan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Cerita-cerita itulah yang coba dihidupkan kembali melalui Pameran Foto Bernarasi "Merti Kayon" Blora 2026. Pameran ini mengajak masyarakat mengenal pohon-pohon besar, tua, dan bersejarah di Kabupaten Blora, sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kelestariannya.
Pameran yang digelar Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Blora ini berlangsung pada 22-27 Oktober 2026 di Gedung Blora Creative Space (BCS)/ eks GNI, Jalan Kolonel Sunandar, Blora.
Ketua Lesbumi PCNU Blora, Dalhar Muhammadun, menjelaskan Merti Kayon merupakan gerakan ekologi dan kebudayaan yang berangkat dari tradisi masyarakat. Melalui gerakan ini, pohon-pohon besar tidak hanya dipandang sebagai bagian dari lingkungan, tetapi juga memiliki makna penting dalam kehidupan manusia.
"Agenda ataupun inisiasi Merti Kayon ini sebenarnya adalah gerakan ekologi, gerakan kebudayaan berbasis tradisi dalam rangka menyelamatkan pohon-pohon besar di Kabupaten Blora. Di situ kita persepsikan sebagai pohon kehidupan," kata Dalhar saat ditemui di lokasi pameran di Gedung BCS, Sabtu (24/10/2026).
Menurut Dalhar, pohon-pohon besar memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Keberadaannya tidak hanya menyimpan nilai ekologis, tetapi juga dapat merekam perjalanan sejarah dan kebudayaan suatu wilayah.
Karena itu, Merti Kayon tidak sekadar mengajak masyarakat melihat pohon sebagai objek fotografi. Lebih jauh, kegiatan ini berupaya menggali cerita yang selama ini hidup di tengah masyarakat, tetapi belum tentu terdokumentasikan dengan baik.
Tak Hanya Foto, Cerita di Balik Pohon Jadi Penilaian
Dalam inventarisasi partisipatif tersebut, Lesbumi PCNU Blora tidak membatasi jenis pohon yang dapat diikutsertakan. Berbagai spesies pohon bisa menjadi objek eksplorasi, selama memiliki cerita yang dapat digali dan dinarasikan.
Dalhar menyebut pohon dari jenis Ficus menjadi salah satu jenis yang banyak ditemukan dalam inventarisasi. Di antaranya beringin, grasak, dan bolu. Selain itu, ada pula trembesi, kepoh, randu alas, serta jenis pohon lainnya.
"Kita tidak membatasi jenis pohon dan yang masuk di antaranya yang paling banyak memang Ficus dengan berbagai jenis. Ada beringin, ada grasak, ada bolu dan segala macam itu kan kategori Ficus," jelasnya.
"Tetapi juga ada yang lain, trembesi, kepoh, randu alas, dan yang lain-lain. Jadi, untuk jenisnya kita tidak membatasi spesies tertentu," lanjut Dalhar.
Sejak awal, kegiatan Merti Kayon memang diarahkan untuk mengeksplorasi sejarah dan cerita rakyat yang berkaitan dengan pohon. Tradisi, ritual, hingga kepercayaan masyarakat setempat juga menjadi bagian yang ingin diungkap.
Dalhar menegaskan, penilaian dalam kegiatan tersebut tidak hanya didasarkan pada bagus atau tidaknya foto yang dihasilkan peserta. Narasi yang menyertai foto justru menjadi bagian penting untuk mengungkap nilai kebudayaan dan lingkungan dari pohon yang didokumentasikan.
"Sejak awal memang Merti Kayon ini diorientasikan untuk mengeksplorasi sejarah, folklore, dan tradisi-tradisi ataupun kepercayaan-kepercayaan masyarakat setempat terhadap pohon yang menjadi sasaran ataupun yang menjadi bahan dari lomba Merti Kayon ini," paparnya.
"Jadi, yang kita eksplorasi itu penilaiannya tidak hanya foto yang dihasilkan, tetapi narasi tentang sejarah, tentang kebudayaan, tentang ritus, tentang pemanfaatan hari ini, sejauh mana itu berkaitan dengan penyelamatan sumber air," jelasnya.
Menurutnya, narasi yang dikirimkan para peserta menunjukkan beragam cerita tentang hubungan masyarakat dengan pohon-pohon di lingkungan mereka. Cerita tersebut menjadi bahan penting untuk memahami bagaimana pohon memiliki arti dalam kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat Blora.
Dari 38 peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, dipilih 10 pohon utama yang mendapat penghargaan. Penghargaan itu diserahkan bertepatan dengan peringatan Hari Santri pada 22 Oktober 2026.
Belasan Pohon Diangkat, dari Kesambi Bersarung hingga Meh
Pameran Merti Kayon menampilkan foto dan narasi sejumlah pohon yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Blora. Di antaranya Pohon Kesambi Bersarung di Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban, yang menjadi salah satu objek eksplorasi.
Ada pula Pohon Panggang dan Pohon Kepoh di Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon, serta Pohon Bolu di Desa Galuk, Kecamatan Kedungtuban. Sementara itu, dari wilayah Kecamatan Cepu, terdapat Pohon Trembesi di Desa Kentong.
Pohon-pohon lainnya yang ditampilkan meliputi Pohon Pule di Desa Singonegoro, Kecamatan Jiken; Pohon Kecacil di Desa Patalan, Blora; dan Pohon Wungu di Desa Sendangwungu, Kecamatan Banjarejo.
Pameran ini juga mengangkat Pohon Meh di Kelurahan Bangkle dan Pohon Sono Kembang di Kelurahan Kunden, Blora. Dari Kecamatan Kradenan, terdapat Pohon Seprih dan Pohon Randu Alas di Desa Sumber.
Selain foto, pengunjung dapat membaca narasi singkat yang menjelaskan sisi tertentu dari pohon-pohon tersebut. Narasi itu merupakan hasil eksplorasi peserta yang kemudian diringkas untuk kebutuhan pameran.
Dalhar mengatakan, cerita yang ditampilkan dalam pameran memang belum mencakup seluruh hasil penelusuran peserta. Setiap pohon memiliki kisah yang beragam sehingga tidak semuanya dapat disajikan secara lengkap dalam ruang pamer.
"Dalam konteks pameran ini, narasi yang ditampilkan memang sebatas ringkasan ataupun angle-angle tertentu dari yang dinarasikan peserta. Ini mungkin belum mewakili semua, tetapi itu setidaknya salah satu angle yang kita tunjukkan di pameran kali ini berupa narasi tiga atau empat paragraf pendek," ungkapnya.
Melalui pendekatan tersebut, pengunjung tidak hanya diajak menikmati keindahan visual pohon-pohon tua, tetapi juga mengenali cerita yang melekat pada keberadaannya.
"Foto menjadi pintu masuk untuk memahami nilai sejarah, tradisi, dan lingkungan yang selama ini hidup di sekitar pohon," jelasnya.
Bakal Dibukukan, Ditargetkan Inventarisasi 99 Pohon
Upaya mendokumentasikan pohon-pohon besar di Blora tidak akan berhenti setelah pameran berakhir. Lesbumi PCNU Blora berencana menghimpun hasil inventarisasi menjadi sebuah buku yang memuat cerita dan narasi tentang pohon-pohon tersebut.
Dalhar menyebut buku itu nantinya akan berbentuk antologi pohon atau semacam ensiklopedia yang dapat menjadi dokumentasi kekayaan alam dan kebudayaan Blora.
"Hasil ini akan kita bukukan, semacam ensiklopedia Blora, semacam itu mungkin lebih tepatnya ya antologi pohon. Akan kita bukukan dan itu akan kita bagikan setidaknya di masing-masing desa," tuturnya.
Menurutnya, pembukuan menjadi salah satu cara untuk menyelamatkan cerita yang telah digali oleh peserta. Dengan dokumentasi tertulis, kisah tentang pohon-pohon tersebut diharapkan tidak hilang dan dapat dikenal oleh masyarakat setempat.
Dengan begitu, hasil kegiatan Merti Kayon tidak hanya menjadi arsip foto, tetapi juga menyimpan narasi tentang sejarah, tradisi, dan kepercayaan masyarakat yang berkaitan dengan pohon.
Selain dibukukan, Lesbumi juga berencana memberikan tanda pada 10 pohon utama yang mendapat penghargaan. Namun, rencana tersebut masih akan dipersiapkan setelah pameran selesai.
"Selain itu, bisa jadi nanti yang 10 pohon utama akan kita beri tanda. Dan prosesnya masih nanti pascapameran ini baru kita siapkan," kata Dalhar.
Tak berhenti pada 38 peserta dan pohon-pohon yang telah dieksplorasi, Lesbumi juga menargetkan inventarisasi yang lebih luas. Setidaknya 99 pohon di Kabupaten Blora direncanakan untuk dieksplorasi dan dibukukan.
Dalhar mengatakan, masih banyak pohon besar yang dikenal masyarakat, tetapi belum masuk dalam inventarisasi awal karena tidak ada peserta yang mengajukannya.
"Ada agenda lanjutan bahwa pohon yang akan kita eksplorasi dan akan kita bukukan setidaknya 99 pohon di Blora. Di antaranya memang yang diminta Pak Bupati dan sejak awal kita juga menghendaki memang tidak sebatas pohon-pohon ini saja," jelasnya.
Ia mencontohkan pohon beringin di Alun-alun Blora, Pohon Jati Denok, hingga beringin kembar yang belum diikutsertakan dalam kegiatan awal.
"Karena ternyata memang banyak pohon besar yang sebenarnya sudah sangat dikenal masyarakat, tetapi tidak disertakan, tidak ada kawan-kawan yang mengajukan pohon itu sebagai peserta Merti Kayon," ujarnya.
"Nah, kita akan melakukan inventarisasi itu, membuat semacam prioritas mana kira-kira dari pohon-pohon di luar yang 38 itu nanti yang akan kita eksplorasi ulang dan akan kita susun narasinya," lanjut Dalhar.
Melalui Merti Kayon, Lesbumi PCNU Blora berharap pohon-pohon besar tidak hanya dikenal karena ukuran dan usianya. Cerita yang melekat pada setiap pohon juga menjadi bagian dari warisan kebudayaan yang perlu didokumentasikan dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
"Di tengah perubahan lingkungan dan perkembangan zaman, pendokumentasian tersebut menjadi salah satu upaya agar hubungan masyarakat dengan alam tetap terjaga. Sebab, merawat pohon bukan hanya soal mempertahankan keberadaan tanaman, tetapi juga menjaga cerita, tradisi, dan ingatan kolektif yang tumbuh bersamanya," ujar dia.(Iam)


