BLORA,POJOKBLORA.ID – Koordinator Aksi Front Blora Selatan, Exi Wijaya, melayangkan kritik keras terhadap tata kelola industri gula nasional yang dinilai kian memprihatinkan dan mengorbankan hajat hidup petani tebu lokal. Pernyataan tegas tersebut disampaikan dalam acara diskusi kedinasan resmi di Kabupaten Blora, Kamis (28/05/2026).
Berdasarkan dokumen undangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Blora Sekretariat Daerah nomor 000.7.3/592/2026 bertajuk "Ngopi bareng Forkopimda", pertemuan tersebut diselenggarakan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora.
Dalam orasinya di hadapan jajaran pemerintah daerah, Exi menyoroti kontradiksi antara narasi swasembada pangan yang digaungkan negara dengan realitas nasib petani tebu yang terhimpit akibat carut-marutnya manajemen PT Gendhis Multi Manis (GMM).
"Ketika negara berbicara tentang swasembada gula, jangan korbankan petani ketika ada kegagalan tata kelola di dalamnya. Utang GMM yang membengkak hingga Rp2,4 triliun adalah bukti nyata kegagalan sistemik industri gula ini," tegas Exi.
Menurut dia, dampak buruk manajemen tersebut merembet ke seluruh ekosistem ekonomi di Blora, mulai dari buruh tebang, kuli angkut tebu, sopir armada, hingga warung-warung kecil yang menggantungkan hidup pada musim panen tebu.
Tuntut Audit Total BPK dan KPK
Merespons krisis finansial dan operasional tersebut, Front Blora Selatan bersama aliansi petani tebu menuntut Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) serta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera melakukan audit total dan investigasi menyeluruh terhadap PT GMM guna membongkar penyebab pembengkakan utang triliunan rupiah.
Exi juga mendesak DPR RI, khususnya Komisi IV (Bidang Pertanian) dan Komisi VI (Bidang BUMN), turut aktif mengawasi penganggaran serta mencari solusi konkret bagi perlindungan petani tebu.
Siap Kepung Jakarta dan Istana Negara
Sebagai bentuk keseriusan, Front Blora Selatan mengumumkan akan menggelar unjuk rasa besar-besaran yang dijadwalkan pada 1 Juni 2026. Exi memperingatkan bahwa aksi di Blora baru permulaan.
"Ini baru permulaan. Ke depan, jika memungkinkan, kami akan membawa aksi ini langsung ke Jakarta. Kami akan mendatangi depan Istana Negara dan Gedung DPR RI agar suara jeritan petani Blora didengar langsung oleh pembuat kebijakan tertinggi," ujar Exi yang disambut teriakan "Hidup Petani!" oleh seluruh peserta.
Aksi solidaritas ini menjadi alarm bagi pemerintah bahwa ketahanan pangan tidak akan pernah tercapai selama kesejahteraan petani lokal terus digilas oleh buruknya tata kelola korporasi industri gula.(Red)


