BLORA,POJOKBLORA.ID – Paguyuban Petani Tebu Kabupaten Blora kembali menyuarakan aspirasinya terkait krisis serapan hasil panen yang telah berlangsung berbulan-bulan. Humas Paguyuban, Khairul Anwar, menyatakan bahwa pihaknya menginginkan dialog yang difasilitasi oleh Kepolisian Resor Blora sebagai langkah utama untuk mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi.
Pernyataan tersebut disampaikan Khairul Anwar seusai rapat internal yang digelar pada Kamis (25/06/2026) malam. Ia menjelaskan bahwa harapan utama paguyuban adalah terciptanya komunikasi yang konstruktif dengan pihak manajemen Pabrik Gula (PG) Gendhis Multi Manis (GMM) guna membahas keluhan utama petani, yaitu terus menyusutnya pendapatan akibat biaya pengiriman tebu yang membengkak karena jarak tempuh ke pabrik alternatif.
"Kami paguyuban petani tebu Blora menginginkan komunikasi berdialog untuk secara cepat penyelesaian petani tebu ini yang terus berkurang pendapatannya karena pengiriman tebu jauh dari pabrik," ujar Khairul dalam keterangannya, Kamis Malam (25/06/2026).
Khairul menambahkan, paguyuban berharap Kapolres Blora bersedia menjadi mediator atau fasilitator dalam dialog tersebut. "Harapan kami paguyuban petani tebu bisa berdialog dengan pihak manajemen Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (GMM) di mediasi atau difasilitasi oleh Pak Kapolres Blora untuk mencari solusi yang cepat terkait subsidi petani tebu Blora," tegasnya.
Menurutnya, forum dialog tersebut diharapkan mampu menghasilkan keputusan dan kesepakatan yang mengikat, yang disaksikan langsung oleh Kapolres. "Harapan kami dengan berdialog ketemu solusi dan keputusan dengan kesepakatan yang disepakati dan disaksikan oleh Kapolres," imbuhnya.
Ancaman Aksi Jilid 3
Khairul menegaskan bahwa paguyuban masih membuka ruang seluas-luasnya untuk berdialog selama ada itikad baik dari manajemen GMM. Namun, ia juga menyampaikan peringatan tegas apabila upaya dialog kembali menemui jalan buntu.
"Kalau masih berdialog kita akan berdialog, apabila tidak ada dialog kita akan melaksanakan aksi jilid 3, kita akan turun ke jalan. Kita terus berjuang sampai nasib kita berubah, pendapatan kita berubah menjadi lebih baik," ancamnya.
Aksi jilid 2 yang dilakukan pada 1 Juni 2026 lalu di depan PG GMM merupakan puncak kekecewaan petani karena janji dari pihak terkait yang disebut akan memberikan jawaban dalam kurun waktu dua minggu tidak kunjung terealisasi hingga saat ini .
"Jika manajemen GMM atau Bulog menganggap persoalan ini serius, harus segera secara cepat. Ini sudah lama, sudah 4 minggu dari aksi jilid 2 tumpah tebu 1 Juni 2026. Yang janjinya 2 minggu sudah ada jawaban. Tapi kita tunggu 2 minggu, tiga minggu tidak ada," keluhnya .
Khairul mengonfirmasi bahwa pertemuan yang difasilitasi Polres Blora dijadwalkan pada Senin (29/06/2026). Pihaknya berharap agenda tersebut dapat berjalan substantif dan menghasilkan solusi nyata bagi kesejahteraan petani tebu di Blora.(Red)
