Polemik Bantuan Bibit Tebu di Blora: Petani Ngaku Belum Dibayar Lunas, Supplier Ngaku Juga Korban Tipu


BLORA,POJOKBLORA.ID
– Program bantuan benih tebu untuk kegiatan bongkar ratoon tahun 2025 di Kabupaten Blora yang digulirkan pemerintah justru menimbulkan polemik di tingkat petani. Seorang petani mengaku belum menerima pelunasan pembayaran dari penyedia jasa (supplier) meskipun program telah selesai tahun lalu.

Mudho (50), warga Desa Balong, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Tani Sido Makmur, mengaku sempat dimintai bantuan oleh seorang supplier berinisial N untuk menyediakan bibit tebu. Bibit tersebut kemudian digunakan untuk kegiatan bongkar ratoon, namun hingga kini pembayarannya belum lunas.

Menurut Mudho, kelompok tani yang dipimpinnya mendapatkan bantuan bibit untuk lahan seluas 7 hektare. Setiap hektare seharusnya menerima 60 ribu mata bibit atau setara dengan 1 rit truk.

"Harusnya mendapat bibit 7 rit. Yang 3 rit itu bibit dari saya sendiri untuk petani karena dari CV Devarro ada kekurangan, jadi saya tambahi sendiri," ujar Mudho saat ditemui di kediamannya, Sabtu (6/6/2026).

Ia menjelaskan, tambahan bibit tersebut atas permintaan supplier di wilayah Kunduran dengan perjanjian bahwa bibit akan dibeli oleh supplier.

"Bibit saya diikutkan program. Makanya saya kebodon (ketipu), cuma dikasih Rp3 juta," keluhnya.

Mudho merinci, kelompoknya semula mengajukan Calon Petani Calon Lahan (CPCL) program bongkar ratoon tebu seluas 7 hektare. Pengiriman pertama dari CV Devarro sebanyak 3 rit, kemudian supplier N menambah 2 rit. Namun karena satu rit di antaranya dinilai tidak layak, Mudho mengembalikannya.

"Akibatnya kami kekurangan 3 rit bibit. Akhirnya, pihak supplier memutuskan membeli bibit milik saya sendiri sebanyak 3 rit untuk menutup kekurangan tersebut," jelas dia.

Selain bantuan bibit, kelompok tani Sido Makmur juga menerima bantuan dana Hari Orang Kerja (HOK) senilai Rp3,6 juta per hektare. Dana tersebut telah cair dan disalurkan kepada petani sesuai pengajuan.

Meskipun kecewa dengan oknum supplier, Mudho mengakui program pemerintah tersebut sangat bermanfaat. "Alhamdulillah, wilayah Balong mayoritas petani tebu. Program dari pemerintah sangat menolong petani," ucapnya.

Supplier Akui Pakai Uang untuk Kepentingan Pribadi

Supplier berinisial N yang bekerja sama dengan CV Devarro Sembada dari Pemalang mengonfirmasi bahwa dirinya memang belum melunasi pembayaran kepada Mudho.

"Iya mas, baru saya kasih Rp3 juta," aku N saat dikonfirmasi secara terpisah.

N mengakui bahwa sisa uang yang seharusnya diberikan kepada Mudho justru ia gunakan untuk keperluan pribadi. Namun, ia juga mengaku sebagai korban penipuan dengan kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

"Memang belum saya bayar sepenuhnya. Alasannya karena uangnya dipakai untuk keperluan pribadi saya. Soalnya saya juga tertipu, uang saya dibawa orang Rp120 juta," tuturnya.

N berjanji akan melunasi kekurangan pembayaran setelah masa panen tebu tiba. "Habistebang tebu, uang tersebut pasti akan saya kembalikan, akan saya lunasi," janjinya.

Manajemen CV Devarro Sembada: Kami Tidak Tahu

Sementara itu, Dedy selaku perwakilan manajemen CV Devarro Sembada menegaskan bahwa pihaknya sudah menyelesaikan seluruh kewajiban pembayaran kepada supplier. Ia mengaku tidak mengetahui adanya praktik penahanan pembayaran oleh N terhadap petani.

"Kami sudah membayar dan menyelesaikan seluruh keuangan bagi supplier. Kami tidak tahu ada kejadian seperti ini di bawah. Ini sudah keterlaluan, apalagi sudah bulan segini. Terima kasih sudah diingatkan, setelah ini akan kami follow up," tegas Dedy.(Iam)

إرسال تعليق

Beri masukan dan tanggapan Anda tentang artikel ini secara bijak.

أحدث أقدم