BLORA,POJOKBLORA.ID – Target penyelesaian pembangunan Pasar Ngawen, Kabupaten Blora, kembali molor dari jadwal yang telah ditentukan. Proyek revitalisasi pasar tradisional yang semula dijadwalkan rampung pada 13 Juli 2026 itu kini mundur hingga 13 Agustus 2026, memaksa ratusan pedagang bertahan lebih lama di lokasi relokasi dengan berbagai keterbatasan.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Ngawen, Ahmad Soleh, mengungkapkan kekecewaan para pedagang atas keterlambatan proyek yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp30 miliar tersebut.
"Ya sedikit kecewa. Enggak sesuai target, itu merugikan pedagang sebenarnya. Karena akhirnya pedagang harus berpanas-panasan berjualan di jalan," ucap Soleh saat ditemui di Ngawen, Blora, Selasa (4/8/2026).
Menurut Soleh, keterlambatan ini memperpanjang masa sulit pedagang yang sejak kebakaran melanda pasar pada 2024 terpaksa berjualan di pinggir jalan maupun menyewa rumah warga. Berdasarkan informasi yang diterimanya, molornya proyek disebabkan oleh keterlambatan pasokan material bangunan dan kenaikan harga bahan baku.
"Dulu waktu pembangunannya itu awal-awal saja, saya nilai agak telat sih itu. Ada keterlambatan beberapa bulan. Terus dalam proses pembangunannya ternyata juga ada kendala," jelasnya.
Akibat perpanjangan masa pengerjaan selama satu bulan, beban operasional pedagang kian bertambah. Mereka yang menempati rumah sewaan harus kembali mengeluarkan biaya sewa, sementara yang berjualan di pinggir jalan tetap membayar retribusi. Di sisi lain, omzet penjualan justru menurun drastis pasca relokasi.
"Jelas menambah biaya. Penghasilan juga menurun sejak relokasi. Sekarang pedagang menempati jalan-jalan. Sebagian ada yang menempati di emper rumah itu sewa, yang di pinggir jalan itu memberi uang retribusi," terang Soleh.
Meski kecewa, Soleh berharap pembangunan benar-benar bisa diselesaikan sesuai target adendum kontrak pada 13 Agustus mendatang. Namun ia mengaku belum dapat memastikan realisasi target tersebut lantaran belum melakukan peninjauan langsung ke dalam proyek.
"Kalau saya berdoa semoga saja jadi. Secara rasional saya belum tahu karena belakangan belum memantau langsung ke dalam," ucapnya.
Soleh tetap mengapresiasi pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Blora yang telah merealisasikan pembangunan kembali Pasar Ngawen pascakebakaran.
"Pedagang tetap berterima kasih karena pasar ini akhirnya dibangun. Semoga setelah jadi pedagang bisa kembali berjualan dengan nyaman," imbuhnya.
Di luar persoalan keterlambatan, Soleh menyampaikan keluhan lain yang banyak disuarakan pedagang, yakni rencana ukuran kios dan los yang lebih kecil dibandingkan bangunan lama. Sebagian besar pedagang merasa keberatan karena ruang berjualan menjadi lebih sempit.
"Kalau pasar dibangun ya kami bersyukur. Tapi yang jadi unek-unek pedagang itu ukuran kios dan los yang lebih kecil," ucapnya.
Ia berharap penataan pedagang nantinya tetap mengacu pada zonasi dan lokasi lama agar tidak memicu kecemburuan antarpedagang saat kembali menempati pasar baru.
"Untuk penataan kan ada zona-zonanya. Zona pakaian, klitikan, grabah, ada klontong. Menurut kami, kalau bisa sesuai tempat yang kemarin. Tapi enggak tahu nanti kalau ada kebijakan lagi," terang Soleh.
Pemerintah Optimistis Target Tercapai
Sebelumnya, Bupati Blora Arief Rohman meninjau progres pembangunan Pasar Ngawen yang telah mencapai 82,72 persen. Pemerintah menargetkan proyek yang mendapat perpanjangan waktu melalui adendum kontrak itu rampung pada 13 Agustus 2026 agar dapat dimanfaatkan menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
"Kami ke sini dalam rangka monitoring progres pembangunan Pasar Ngawen. Menurut laporan, ini sudah 82,72 persen. Kita berharap teman-teman dari PU maupun kontraktor pelaksana bisa merampungkannya, mengingat waktunya tinggal 13 hari lagi," ujar Arief di sela-sela peninjauan, Kamis (30/7).
Sementara itu, Pejabat Pembuat Kesepakatan (PPK) Pembangunan Pasar Ngawen, Fahrizal Patriaman, menyatakan optimisme bahwa sisa pengerjaan sekitar 17 persen dapat diselesaikan dalam kurun waktu kurang dari dua pekan.
Pihaknya memastikan seluruh kebutuhan material proyek telah tersedia di lokasi. Kontraktor pun menyiapkan sejumlah skema percepatan, termasuk penambahan pekerja dan lembur.
"Penambahan pekerja pasti dilakukan. Kita setiap hari pantau terus untuk penambahan pekerjaannya, dan pengerjaannya juga dilembur," terangnya.
Berdasarkan papan pengumuman proyek di area Pasar Ngawen, proyek pembangunan pasar tersebut dikerjakan oleh PT Joglo Multi Ayu dengan masa pelaksanaan 240 hari kalender atau 8 bulan sejak pertengahan November 2025.
Proyek ini semula ditargetkan selesai pada 14 Juli 2026, kemudian diadendum menjadi 13 Agustus 2026. Denda senilai Rp30 juta akan diberlakukan setelah 13 Agustus apabila rehabilitasi pasar belum selesai.(RED)











