BLORA,POJOKBLORA.ID – Ancaman krisis ekonomi menyelimuti wilayah sentra tebu di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Seorang petani tebu bernama Hairul Anwar, mewakili kelompok tani setempat, menyatakan kesiapannya untuk kembali melancarkan aksi ke Jakarta setelah sebelumnya bertemu dengan Presiden Joko Widodo pada Rabu (22/4). Langkah ini ditempuh menyusul kondisi pabrik gula yang terancam tutup dan menjadi "urat nadi" perekonomian warga.
Dalam keterangannya kepada awak media pada Minggu (26/4), Hairul menegaskan bahwa rombongan akan berangkat ke Jakarta hari ini dengan agenda utama menemui Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada hari Rabu mendatang.
"Apabila pabrik gula ini mati, maka urat nadi perekonomian Blora akan mati. Pengangguran akan meningkat, daya beli masyarakat menurun. Kami perjuangkan pabrik ini sampai beroperasi kembali," ujar Hairul dengan tegas.
Ia merinci rangkaian agenda perjuangan yang dimulai dari menghadiri acara ulang tahun Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) pada hari Senin (27/4). Acara tersebut rencananya dihadiri oleh Menteri Pertanian, Wakil Menteri Pertanian, Menteri Bappenas, serta jajaran Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI). Di forum itu, para petani akan menyampaikan keluh kesah melalui dialog perwakilan.
Agenda dilanjutkan pada hari Selasa (28/4) dengan pertemuan bersama anggota DPR RI, Ibu Titik, serta Menteri Bappenas, sebelum puncaknya audiensi dengan Wakil Presiden pada hari Rabu (29/4).
Hairul berharap pemerintah pusat turun tangan menghidupkan kembali pabrik guna mendukung program swasembada gula nasional. Namun, ia tidak menampik potensi eskalasi aksi jika aspirasi mereka tidak direspons.
"Kalau tidak ada respons, kami akan lanjutkan. Kami akan tawaf Istana Merdeka," ancamnya.
Para petani berharap langkah ini menjadi titik balik penyelamatan sektor gula di Blora yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian ribuan keluarga.


