BLORA,POJOKBLORA.ID – Seorang siswa di salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Kabupaten Blora menjadi korban perundungan yang diduga dilakukan oleh teman-teman sekelasnya. Korban mengalami pemukulan berulang kali hingga mengalami luka dan memar, bahkan bibirnya harus mendapatkan jahitan.
Peristiwa yang terjadi pada Jumat dan Sabtu di awal Agustus 2026 itu kini telah dilaporkan ke Polres Blora. Langkah hukum ditempuh korban setelah upaya mediasi yang dijadwalkan oleh pihak sekolah gagal dilaksanakan.
Perundungan Berlangsung Dua Hari Berturut-turut
Tokoh masyarakat Blora, Danu Sukoco, mengungkapkan bahwa berdasarkan cerita dari pihak korban, dugaan perundungan terjadi dalam dua kesempatan berbeda.
"Kejadian pertama pada hari Jumat korban dipukuli. Besoknya lagi dicari temannya, kemudian dipukuli dan ditendang lagi," ujar Danu saat diwawancarai awak media di Blora, Rabu (12/8/2026).
Menurut Danu, sebelum pemukulan terjadi, korban sempat mengalami peristiwa yang membuatnya merasa menjadi sasaran kejahilan teman-temannya. Korban disebut pernah dijebak menggunakan gayung berisi air yang diletakkan di atas pintu. Merasa diperlakukan demikian, korban kemudian melakukan hal serupa, namun tidak mengetahui siapa yang akhirnya terkena jebakan tersebut.
Danu juga menyebut, berdasarkan informasi yang diterimanya, salah satu siswa yang diduga terlibat dalam pemukulan disebut-sebut sebagai ketua kelompok atau geng di lingkungan sekolah. Akibat perundungan tersebut, korban harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit DKT.
"Makanya ini kemarin mengajukan (laporan) ke Polres, agar nantinya ada efek jera ke murid dan juga ada teguran ke pihak sekolah," tegas Danu.
Ia menyayangkan dugaan kurangnya pengawasan di lingkungan sekolah, mengingat kejadian tersebut berlangsung lebih dari sekali.
"Kalau anak sekolah bertengkar apakah kemudian dimaklumi? Sekolah seharusnya bisa mengawasi. Guru, keamanan, kepala sekolah maupun guru BK harus mengetahui gelagat dan kondisi anak-anak," ujarnya.
"Yang kami sayangkan, ketika kejadian pertama terjadi, sekolah harusnya tahu. Apalagi kejadian penganiayaan disebut kembali terjadi keesokan harinya. Pengawasannya bagaimana?" tambah Danu.
Dinas Pendidikan Minta Pendekatan Kekeluargaan
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Sunaryo, membenarkan adanya siswa yang dipukul oleh teman sekolahnya. Pihaknya meminta sekolah mendalami kronologi secara utuh dan mengedepankan pendekatan terhadap kedua pihak.
"Kemarin saya minta bapak ibu guru hadir ke rumah korban, bertemu orang tua untuk menyampaikan kronologi kasus yang sebenarnya agar informasinya seimbang," jelasnya.
Dinas Pendidikan bersama Dinas Sosial telah mendatangi rumah korban. Pihaknya juga berkoordinasi dengan sekolah dan siswa yang diduga terlibat untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Sunaryo mengatakan pihaknya tetap memantau laporan yang telah masuk ke Polres Blora. Jika proses hukum membutuhkan kehadiran anak-anak, Dinas Pendidikan akan berkoordinasi dengan pihak sekolah.
"Ini usia anak, jadi harus hati-hati agar tidak menimbulkan trauma. Kami berharap persoalan ini tidak berlanjut ke jalur hukum jika masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan," ujarnya.
Menurut Sunaryo, sekolah telah dibekali program budaya sekolah aman dan nyaman melalui kelompok kerja (Pokja). Namun, kasus perundungan masih menjadi tantangan di dunia pendidikan.
"Guru harus ekstra hati-hati. Banyak faktor yang memengaruhi anak sekarang, termasuk dunia digital. Pengawasan harus lebih ditingkatkan," tegasnya.
Sekolah Klaim Telah Upayakan Mediasi
Kepala SMPN 1 Blora, Ainur Rofiq, menyampaikan permohonan maaf atas kejadian pertengkaran dan dugaan perundungan yang melibatkan sejumlah siswanya. Pihak sekolah mengaku telah berupaya menangani persoalan tersebut melalui mediasi, namun proses itu belum berhasil hingga akhirnya kasus dilaporkan ke Polres.
Ainur menjelaskan, kejadian tersebut berlangsung pada Jumat. Setelah mendapat informasi, pihak sekolah langsung melakukan penanganan awal terhadap siswa yang menjadi korban.
"Awal kejadian itu kan hari Jumat. Ketika sudah ada penanganan di hari Sabtu, kita fokus anaknya dulu. Diperiksa dan diantar pulang," kata Ainur, Kamis (13/8/2026).
Pada Senin, pihak sekolah mengumpulkan sejumlah siswa untuk menggali informasi. Sekolah juga menerima permintaan dari pihak korban untuk dilakukan mediasi karena masih terdapat sejumlah informasi yang perlu dikroscek.
"Korban minta dimediasi karena ada beberapa informasi yang harus dikroscek. Kan baru sepihak," ujarnya.
Sekolah menjadwalkan mediasi pada Selasa pukul 09.00 WIB dengan mengundang pihak-pihak terkait, termasuk orang tua siswa yang terlibat dan orang tua korban. Namun, hingga pukul 09.00 WIB pihak yang diundang belum datang. Setelah dihubungi sekitar pukul 10.00 WIB, pihak korban menyampaikan tidak dapat menghadiri mediasi karena memilih melaporkan kasus tersebut ke Polres.
"Saya sampaikan kepada orang tua yang terlibat bahwa korban memilih lapor ke Polres," jelasnya.
Setelah mengetahui keputusan tersebut, Ainur bersama guru BK mendatangi rumah korban. Pihak sekolah meminta izin untuk melakukan pengecekan informasi, namun karena kasus telah dilaporkan ke kepolisian, sekolah memilih mengikuti proses penanganan yang dilakukan Polres.
Empat Siswa Dilaporkan sebagai Terduga Pelaku
Dalam kasus tersebut, terdapat empat siswa yang dilaporkan sebagai terduga pelaku. Selain itu, ada sejumlah siswa lain yang disebut terlibat dalam kejadian, tetapi menurut sekolah mereka tidak dikategorikan sebagai pelaku.
"Yang dilaporkan terduga pelaku empat orang. Tapi ada juga anak-anak yang terlibat, bukan pelaku. Tapi terlibat begitu. Korbannya kelas 9," ungkap Ainur.
Terkait dugaan perundungan, Ainur mengatakan pihak sekolah masih melakukan pendalaman. Berdasarkan cerita dari sejumlah siswa, korban disebut beberapa kali memasang jebakan berupa air di pintu kamar mandi sekolah. Sejumlah siswa yang diduga menjadi korban jebakan tersebut kemudian disebut terlibat dalam kejadian yang berujung pada pertengkaran.
"Ini perlu dikroscek. Ada juga korban katanya pernah jadi korban itu, tapi yang memasang siapa kita juga belum tahu. Ada saksi yang mengetahui korban yang memasang itu," katanya.
Sebelumnya, pihak-pihak yang terlibat juga disebut telah saling meminta maaf. Para siswa yang diduga terlibat pun masih diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
"Ya awalnya sudah ada maaf-maafan," ujarnya.
Ainur menegaskan sekolah sebenarnya telah berupaya menyelesaikan persoalan tersebut melalui mediasi. Namun, karena pihak korban memilih menempuh jalur hukum, sekolah kini menyerahkan proses penanganan kepada kepolisian.
"Sekolah sudah berusaha mediasi, tapi belum berhasil. Terus karena sudah dilaporkan ke Polres, ya sekolah mengikuti proses di Polres," jelasnya.
Polisi Masih Tahap Penyelidikan
Kasat Reskrim Polres Blora, AKP Zaenul Arifin, membenarkan adanya laporan terkait dugaan perundungan yang melibatkan siswa SMPN 1 Blora. Namun, polisi menegaskan penanganan perkara tersebut saat ini masih dalam tahap penyelidikan.
"(Ada laporan kasus perundungan di SMPN 1 Blora?) Ini baru giat penyelidikan," kata Kasatreskrim Polres Blora saat dikonfirmasi.
Dia menjelaskan, laporan tersebut baru masuk melalui Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) dan belum diterima secara administrasi oleh unit Reskrim. Meski demikian, petugas Reskrim telah melakukan kegiatan penyelidikan awal untuk mendalami dugaan perundungan tersebut.
Saat ditanya mengenai pihak yang dilaporkan dalam perkara tersebut, Kasatreskrim belum memberikan keterangan lebih lanjut. Dia menyebut laporan dari SPKT belum turun ke Reskrim sehingga pihaknya masih melakukan pendalaman.
"(Yang dilaporkan siapa saja?) Baru di SPKT, Reskrim baru penyelidikan. Laporan SPKT belum turun, Reskrim baru penyelidikan giat," jelasnya. (Iam)











